Jangan Anggap Remeh Perawatan & Pengawasan Lift Karena Menyangkut Nyawa Manusia

Para korban jatuhnya lift dari lantai 4 di proyek pembangunan gedung baru RSI Unisma, Selasa (8/9/2020), dievakuasi petugas. (Foto: Inilah.com)

 

JAKARTA, Terrant.id – Aspek keselamatan (safety) dalam industri lift merupakan sebuah kemutlakan yang harus dilakukan baik oleh produsen lift maupun customer.

Repotnya, banyak customer yang menyerahkan urusan maintenance ke pihak-pihak yang tidak berkompeten semisal tidak bersertifikat.   Situasi ini diperparah dengan banyaknya onderdil alias suku cadang abal-abal yang beredar di pasaran.

Hal ini diakui oleh Vincentius Ricky Tanubrata, Quality & Product Safety Manager PT Berca Schindler Lifts dan Herman Hartadi, Safety Health Quality Assurance (SHQA) Manager PT Berca Schindler Lifts, produsen lift asal Swiss.   “Oh banyak (onderdil abal-abal) Pak. Ini sudah berlangsung lama,” kata Herman yang diamini Ricky kepada Terrant.id di Jakarta.

Menurut Ricky, setiap bagian dari lift harus menggunakan material yang sudah bersertifikat. Pihak Schindler sendiri selama ini mengacu pada dua standar, yaitu SNI (Standar Nasional Indonesia) dan EN (European Norm) yang merupakan standar nasional lift yang berlaku di Eropa.

Dikatakan Ricky, onderdil lift yang black market akan selalu ada sepanjang demand (permintaan) dari pasar masih tinggi. Untuk itu, baik Ricky maupun Herman mengimbau agar konsumen baik perorangan maupun perusahaan (corporate), tidak memberikan kepercayaan begitu saja kepada teknisi atau perusahaan jasa mekanik lift dalam melakukan maintenance maupun perbaikan (repair).

Contoh manajemen perawatan sistem (sarana) transportasi vertical seperti lift.

Lantas bagaimana ‘aturan main’ antara produsen lift dan konsumen? Herman mengibaratkan bisnis industri lift dengan kendaraan semisal mobil. Hubungan antara konsumen dan produsen hanya sebatas penjual dan pembeli.

“Seperti halnya mobil, sejak pembelian hingga pemasangan, kami juga memberikan garansi servis. Lamanya tergantung unit lift yang dibeli. Untuk lift lima lantai ke bawah, garansi servis yang diberikan selama 3 bulan. Sedangkan untuk lift di atas lima lantai atau puluhan lantai, garansi yang diberikan selama 1 tahun. Setelah itu, selesai. Sepenuhnya menjadi tanggung jawab si pembeli. Hanya saja kami sarankan, customer menggunakan teknisi dari produsen yang dia beli, seperti halnya Toyota dengan automobile-nya. Sebab, setiap produsen lift juga masing-masing memiliki produk yang tidak sama satu sama lain,” beber Herman.

“Sebaiknya setiap produk lift yang dipasang, dilakukan perawatan oleh teknisi yang bersertifikasi dan kompeten. Karena setiap pabrikan atau merek lift memiliki teknologi yang berbeda dan memiliki keunikan masing-masing,” Herman menambahkan.

Menurut Ricky, saat ini ada 10 produsen besar yang bermain di industri lift di Indonesia, termasuk Schindler, produsen lift asal Swiss. Ke depan, seiring diberlakukannya perdagangan bebas dunia (WTO), tentu akan banyak produsen lift yang berbisnis di Tanah Air.

Para produsen lift dunia itu pastinya tak sekadar mendirikan perusahannya di Indonesia, tapi sekaligus juga memboyong para teknisinya. Situasi perdagangan bebas itu tentu akan memicu semakin banyaknya perusahaan jasa mekanik lift yang akan berdiri plus makin membanjirnya suku cadang abal-abal yang masuk ke Indonesia.

Jika sudah demikian, jutaan manusia Indonesia nyawanya dipertaruhkan di dalam lift setiap harinya. (Hasanuddin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *