Jangan Biarkan Impian Mereka Kandas di Jalanan

Mobil Mitsubishi Evo berwarna hitam bernopol B 80 SAL milik Abdul Qodir Jaelani (Dul), rusak berat setelah terlibat tabrakan beruntun di Tol Jagorawi pada Minggu (8/9/2013). Tujuh orang tewas dalam peristiwa itu.  (Foto: Ricardo/JPNN)

Kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan anak-anak dan remaja di Indonesia terbilang tinggi. Jangan biarkan impian anak-anak kandas di jalanan.

 

JAKARTA, Terrant.id –  Kecelakaan maut yang menewaskan dua anak di bawah umur dan membuat seorang anak di bawah umur lagi luka berat di Jl KRT Radjiman, Buaran, Cakung, Jakarta Timur, Jumat (4/9/2020), kian menambah panjang daftar kecelakaan lalu lintas yang melibatkan anak di negeri ini. Mulai dari anak kampung di pelosok desa, anak pejabat/menteri, hingga artis anak-anak.

Masih ingat kasus kecelakaan maut di Tol Jagorawi yang terjadi pada Minggu (8/9/2013) dinihari silam? Dinihari itu, sebuah mobil sedan Mitsubishi Evo keluaran 2010 dengan plat nomor B 80 SAL warna hitam melaju sangat kencang dari arah Jakarta menuju Bogor.

Tiba di Kilometer 8+200 Tol Jagorawi, si pengemudi sedan ‘wah’ tersebut tak mampu mengendalikan laju kendaraannya. Dalam kecepatan tinggi (sekitar 170 km/jam), kendaraan tersebut ‘terbang’ menerobos pembatas jalan dan ‘mendarat’ di jalanan tol dengan arah berlawanan.

Di sana sedan mentereng tersebut menyerempet sisi kanan belakang Toyota Avanza hitam bernomor polisi B 1882 UZJ yang melaju dari arah berlawanan. Karena pengendaranya mampu mempertahankan keseimbangan, Avanza hitam itu tidak mengalami kerusakan parah.

Naas bagi Daihatsu Gran Max B 1349 TEN yang berada di samping Avanza. Tanpa ampun, mobil minibus yang sarat penumpang itu dihantam Mitsubishi Evo. Tujuh dari 13 penumpang Gran Max meninggal dunia, enam di antaranya mengembuskan napas di tempat. Sementara, pengemudi mobil Mitsibushi Evo dan seorang temannya, luput dari maut meski mengalami patah tulang yang cukup hebat di beberapa bagian tubuhnya.

Kasus kecelakaan maut di Tol Jagorawi pada hari Minggu dinihari tersebut menjadi kasus yang fenomenal sekaligus kontroversial. Maklum, si pengemudi sedan mewah yang menjadi pelaku utama dari kecelakaan maut tersebut masih anak-anak dan merupakan figur publik (public figure). Dia adalah AQJ alias Dul, putra bungsu pasangan musisi kondang Ahmad Dhani-Maia Estianty.

Dhani langsung mendatangi keluarga para korban. Bos Manajemen Republik Cinta ini menanggung seluruh biaya perawatan, rumah sakit, dan pemakaman bagi korban meninggal. Uluran tangan Dhani tak berhenti di situ. Pentolan grup musik Dewa 19 ini juga menanggung seluruh biaya pendidikan anak para korban hingga perguruan tinggi.

Upaya perdamaian yang dilakukan Dhani, tak menghapuskan proses hukum atas Dul. Putra bungsu dari tiga bersaudara ini tetap menjalani proses hukum. Pada Rabu (16/7/2014), Dul divonis bersalah oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Dul dinyatakan bersalah dalam kecelakaan yang menewaskan tujuh orang itu. Hakim menilai Dul melanggar Pasal 310 ayat 4, 310 ayat 3, dan 310 ayat 1 dalam Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Meski menyatakan Dul bersalah, hakim membebaskan Dul dari hukuman. Ketua Majelis Hakim Fetrianti memutuskan agar Dul dikembalikan kepada kedua orangtuanya, Ahmad Dhani dan Maia Estianty. “Terdakwa bukan anak yang nakal, tetapi hanya kurang perhatian orangtua. Terdakwa masih dapat dibina,” ujar hakim.

Memprihatinkan

Saat kejadian, Dul masih berusia 13 tahun dan status kedua orangtuanya sudah bercerai. Dul hanyalah satu contoh dari sekian banyak kasus kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Indonesia di mana pelakunya anak-anak.

Data Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia (Korlantas Polri) tahun 2013 menyebutkan, pelaku kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia masih didominasi kelompok usia muda.  Tahun 2013, kelompok usia 16-25 tahun menyumbang 26,61% kasus kecelakaan lalu lintas yang terjadi. Sekalipun angka itu menurun tipis dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 26,76%, tetap saja kontribusi kelompok ini terhadap kecelakaan lalu lintas di jalanan yang terjadi masih teratas.

Anak-anak muda di rentang usia 16-25 tahun menempati posisi teratas sebagai pelaku kecelakaan lalu lintas jalan pada 2013. Padahal, setahun sebelumnya yang menjadi penyumbang terbesar adalah kelompok usia 26-30 tahun, yang pada 2013 justru turun. Kelompok usia ini menempati posisi kedua terbesar dengan kontribusi sekitar 21%.

Data itu juga menyebutkan bahwa pada 2012, rata-rata ada 94 kelompok usia 16-25 tahun yang menjadi pelaku kecelakaan di jalan. Sedangkan tahun 2013, rata-rata sebanyak 73 orang.

Data Korlantas Polri yang patut mendapat perhatian semua pihak adalah keterlibatan kelompok usia 10-15 tahun sebagai pelaku kecelakaan, sebagaimana yang melibatkan Dul tadi. Angka pelaku kecelakaan lalu lintas jalan yang berasal dari kelompok usia ini rata-rata mencapai 20 orang/hari (7,15%) pada 2013 atau meningkat lebih dari 2% dibanding tahun 2012 yang mencapai 5,12% atau rata-rata 18 anak/hari.

Kelompok usia 10-15 tahun adalah kelompok anak-anak yang masih di bawah umur. Mereka adalah kelompok yang masih menjadi tanggung jawab dan berada dalam pengawasan penuh orangtua. Kelompok usia di bawah umur juga belum memiliki tingkat emosional yang stabil secara psikologis sehingga berpengaruh terhadap perilaku berkendara.

Sumber : Korlantas Polri, 2013

Sementara itu, jumlah anak-anak yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas jalan juga tak kalah tingginya. Data Korlantas Polri tahun 2013 menyebutkan, anak-anak usia di bawah 15 tahun yang menjadi korban kecelakaan di seluruh Indonesia kontribusinya sebesar 15,45% tahun 2013. Masih tergolong tinggi, sekalipun jika dibandingkan 2012 angka itu melemah, mengingat setahun sebelumnya sebesar 29,09%.

Di wilayah Polda Metro Jaya (mencakup kota Jakarta dan sekitarnya), kasus kecelakaan lalu lintas jalan dengan korban anak-anak juga masih tergolong tinggi. Pada 2012, anak di bawah 10 tahun yang menjadi korban kecelakaan kontribusinya sebesar 3,70%. Setahun kemudian, justru meningkat menjadi 4,04%.

Sumber : Ditlantas Polda Metro Jaya, November 2013

Data dari Kementerian Perhubungan, malah makin mencengangkan. Dikutip dari buku Perhubungan Darat dalam Angka, jumlah anak-anak yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia terbilang tinggi.  Angkanya cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun. Untuk korban kelompok usia 5-15 tahun, misalnya, pada tahun 2004 terdata 409 orang. Sembilan tahun kemudian, angkanya melonjak drastis ke 20.553 anak.

Lonjakan luar biasa juga terjadi pada korban kecelakaan lalu lintas jalan kelompok usia 16-25 tahun. Tahun 2004, Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub mendata 4.717 orang dan melonjak ke angka 67.789 orang pada tahun 2013.

Pada tahun 2013, korban kecelakaan terbanyak terjadi pada umur 16-25 yaitu sebesar 32% dari jumlah total kecelakaan pada tahun tersebut. Berdasarkan informasi dari Polri, pada rentang umur itu korban paling banyak didominasi oleh pelajar SMA. Peristiwa tersebut cukup tragis karena sebagai generasi penerus bangsa, para pelajar itu gugur duluan dalam peristiwa kecelakaan di jalan raya.

 

Korban Kecelakaan Lalu Lintas Jalan di Indonesia

KELOMPOK UMUR

TAHUN

2004

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

5 – 15 th

409 506 2.311 3.492 6.437 7.114 11.747 12.968 15.630

20.553

16 – 25 th 4.717 4.994 12.813 17.963 25.681 29.703 14.396 24.583 23.052

67.789

Sumber: buku Perhubungan Darat Dalam Angka

 

Kandas di Tengah Jalan

Siapapun, tentu, tidak menginginkan dirinya terlibat dalam kecelakaan lalu lintas di jalanan, baik sebagai korban maupun pelaku. Kecelakaan bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dan menimpa siapa saja tanpa kecuali, sebab kecelakaan bukan merupakan sesuatu yang direncanakan atau bahkan diidam-idamkan.

Kecelakaan selalu menyisakan kesedihan dan duka mendalam bagi keluarga korban yang ditinggalkan. Berapa banyak istri yang sudah kehilangan suami, suami kehilangan istri, orangtua kehilangan anak, anak kehilangan orangtua, saudara, kerabat, teman, sahabat, kekasih, hanya gara-gara sebuah kecelakaan lalu lintas di jalanan. Kecelakaan lalu lintas bahkan dituding sebagai pemicu terbanyak (sekitar 62%) terjadinya kemiskinan di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang.

AQJ alias Dul tergolong beruntung. Sebagai pelaku kecelakaan yang menewaskan 7 orang dan melukai 6 orang, Dul tidak perlu mendekam di balik jeruji besi meski majelis hakim sudah menjatuhkan vonis bersalah kepada dirinya. Penyelesaian secara kekeluargaan yang dilakukan Ahmad Dhani selaku orangtua Dul dengan para korban dan keluarga korban, menjadi salah satu pertimbangan majelis hakim. Dul pun bisa meneruskan segala aktivitas dan rutinitas kesehariannya guna mewujudkan mimpi-mimpi dan merenda masa depan yang lebih baik dengan tenang.

Lain halnya dengan Sapta. Remaja berusia 18 tahun yang baru saja memulai masa kuliahnya itu, kini terpaksa harus menjalani kesehariannya di balik jeruji besi. Sama halnya Dul, Sapta pun menjadi tersangka pelaku kecelakaan lalu lintas di jalan yang menewaskan lima orang.

Bagi Sapta, langit seakan runtuh dan menimpa dirinya. Peristiwa kecelakaan lalu lintas yang dialaminya telah mengubah dunia Sapta dalam sekejap. Dari status remaja yang menatap masa depan dengan ceria, tiba-tiba menjadi tersangka, masuk tahanan dan bersiap mengahadapi ancaman kurungan penjara selama 6 tahun. Masa depan cerah yang selama ini diidamkan, terpaksa harus dipendam dalam-dalam dan menguncinya rapat-rapat di balik terali besi.

Dul dan Sapta hanyalah dua contoh dari sekian banyak kasus kecelakaan lalu lintas di jalan di mana pelakunya berasal dari kalangan anak-anak dan remaja. Masa depan yang suram bahkan kandas juga banyak dialami para korban kecelakaan lalu lintas di jalan, yang jumlahnya jauh lebih banyak dibanding mereka sebagai pelaku.

Hasil kajian Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebutkan bahwa kecelakaan lalu lintas menjadi pembunuh utama kaum muda berusia 10 hingga 24 tahun. Hampir 400 ribu pemuda berusia di bawah 25 tahun setiap tahunnya meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas dan jutaan lainnya menderita luka atau cacat karenanya.

Sudah saatnya semua pihak terkait dan masyarakat, termasuk para orangtua, bahu membahu dan bergandengan tangan guna menekan angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan anak-anak baik sebagai pelaku maupun korban. Jangan biarkan anak-anak kita layu atau bahkan mati sebelum berkembang dan jangan biarkan masa depan generasi penerus bangsa, kandas di jalanan. (Hasanuddin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *