Mengapa Wire Rope (Sling) Lift Putus?

Sumber foto: pasificengineering.com.bd

Lift termasuk moda transportasi, yang digunakan untuk mengangkut orang dan barang. Karenanya, lift yang dioperasikan harus memenuhi persyaratan K3 sebagaimana diatur dalam Permenaker No PER.03/MEN/1999 tentang Syarat-syarat K3 Lift untuk Pengangkutan Orang dan Barang.

 

JAKARTA, TERRANT.id – Kasus tewasnya empat pekerja akibat lift yang ditumpanginya jatuh dari lantai 4 ke lantai dasar di proyek perluasan gedung Rumah Sakit Islam (RSI) Universitas Islam Malang (Unisma) di kota Malang, Jawa Timur, pada Selasa (8/9/2020), bukan peristiwa yang baru terjadi.

Peristiwa lift jatuh merupakan kecelakaan kerja yang begitu sering terjadi di Indonesia. Entah sudah berapa banyak korban meninggal dunia, patah tulang, dan luka lainnya, akibat pesawat lift yang ditumpanginya mendadak terjatuh dari ketinggian.

Pada 1995 silam, misalnya, enam siswi sebuah SMP dan dua pegawai negeri sipil (PNS) tampak lemas saat ke luar dari lift di sebuah kantor Walikota di Jakarta. Mereka terjebak selama hampir setengah jam di dalam lift yang tiba-tiba saja berhenti antara lantai dua dan tiga.

Ketika itu di dalam lift belum ada fasilitas telepon, sehingga respons petugas terlambat. Mereka akhirnya bisa dikeluarkan setelah teknisi datang hampir setengah jam setelah lift itu berhenti.

Kini, ketika lift sudah dilengkapi aneka peralatan canggih, kecelakaan lift masih saja terjadi. Bahkan frekuensi kejadiannya terbilang sering. Sejumlah kasus kecelakaan lift yang belakangan terjadi, malah menimbulkan korban jiwa.

Selain kasus di RSI Unisma, simak saja kasus kecelakaan lift di Gedung Arkadia  Tower B, Jakarta Selatan, 10 Desember 2015. Lift khusus karyawan PT Nestle Indonesia itu tiba-tiba jatuh dari lantai tujuh ke lantai tiga. Akibatnya, dua orang tewas dan seorang lainnya mengalami patah tulang yang cukup parah. Penyebabnya, tali baja (wire rope) lift putus.

Sumber foto: The Guardian.com

Sebelumnya, pada 30 September 2015, di Apartemen Taman Kemayoran Condominium, Jakarta Pusat, lift jatuh dari lantai dua ke lantai dasar. Insiden ini menyebabkan sembilan orang terluka. Penyebabnya, juga karena tali lift (sling) putus.

Kemudian di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, 19 Juni 2016. Lift pengunjung di gedung rawat inap Teratai RS Fatmawati, jatuh dari lantai tiga ke lantai satu. Akibatnya, lima pengunjung menderita luka serius. Dan, masih banyak lagi kasus kecelakaan lift yang terjadi.

 

Mengapa Sling Lift Putus?

Sebagai moda transportasi yang diperlengkapi aneka peralatan canggih, lift seharusnya aman. Tapi sejumlah kasus kecelakaan yang belakangan terjadi menunjukkan  bahwa lift tidak seratus persen aman.  Lantas, apa penyebabnya dan mengapa hal itu bisa terjadi?

Sebagian besar dari kasus kecelakaan lift terjadi lantaran tali baja (wire rope) lift atau sling, putus. Cukup mengherankan memang, mengingat tali lift terbuat dari sejumlah kawat baja yang dipilin menjadi satu kesatuan sehingga seharusnya menjadi sebuah tali baja yang sangat kuat.

“Tali baja lift atau wire rope merupakan tali yang sangat kuat. Daya kekuatannya bisa sampai 10 tahun, tanpa perawatan sekalipun,” kata Vincentius Ricky Tanubrata, Quality & Product Safety Manager PT Berca Schindler Lifts.

Jika memang sangat kuat dan memiliki daya tahan yang lama, kenapa bisa putus? Menurut Ricky, secara umum penyebab putusnya tali lift ada dua kemungkinan. Pertama menyangkut produk dan kedua human.

Produk, menyangkut kualitas material. Apakah produk yang digunakan sudah memenuhi standar yang ditetapkan atau tidak dan apakah produk tersebut sesuai peruntukkannya atau tidak.

“Sedangkan menyangkut human, apakah lift tersebut dilakukan perawatan secara rutin atau tidak, apakah teknisi yang ditunjuk untuk melakukan maintenance bersertifikasi atau tidak, dan sebagainya,” kata Ricky yang diamini Herman Hartadi, Safety Health Quality Assurance (SHQA) Manager PT Berca Schindler Lifts.

Penjelasan Ricky dan Herman selaras dan sebangun dengan hasil penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan pihak kepolisian terhadap kasus jatuhnya lift di Gedung Arkadia Tower B. Hasil penyelidikan pihak kepolisian dari Polres Metro Jakarta Selatan menyebutkan, teknisi yang ditugaskan melakukan maintenance lift, tidak bersertifikat.

Padahal, teknisi lift yang bersertifikat merupakan hal mutlak sebagaimana disyaratkan dalam Pasal 27 Peraturan Menteri Ketenagakerjaan PER.03/MEN/1999 tentang Syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lift Untuk Pengangkut Orang dan Barang.

Dalam kasus Arkadia, polisi menetapkan tiga tersangka. Yaitu SF, HR, dan SM. SF dan HR adalah dua teknisi tidak bersertifikat yang ditugaskan SM, Dirut PT Eltek Indonesia, untuk melakukan maintenance lift Gedung Arkadia Tower B.

Pihak kepolisian menduga kuat, SF dan HR tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang maintenance lift sehingga keduanya menggunakan wire rope berdiameter 6 mm. Padahal, s sesuai Pasal 7 ayat (3) PER.03/MEN/1999, tali baja yang digunakan harus berdiameter sekurang-kurangnya 10 mm, kecuali untuk lift pelayan.

Sementara dalam kasus RSI Unisma, polisi menduga wire rope (sling) lift putus lantaran kelebihan beban. Menurut Kasatreskrim Polresta Malang AKP Azi Pratas Guspitu, pada saat kejadian lift yang jatuh itu tengah mengangkut 11 pekerja.

“Melihat kondisi di lokasi, lift proyek (yang jatuh) tersebut untuk barang, bukan untuk muatan lain apalagi dalam banyak. Makanya tali sling lift tidak kuat menahan beban, dan putus,” tegas AKP Azi.

Mantan Kasatreskrim Polres Malang ini menambahkan bahwa para pekerja biasa menggunakan lift tersebut hanya untuk mengangkut barang. “Kalaupun ada orangnya, maksimal hanya lima orang,” ujarnya.

 

Teknisi Tak Bersertifikat dan Pemeliharaan Lift

Yang mengejutkan, teknisi tak bersertifikat seperti pada kasus Gedung Arkadia, sudah lama terjadi dan banyak digunakan oleh para pengelola gedung (buildings management) di Indonesia. “(Teknisi tak bersertifikat) Banyak dan sudah lama ada,” kata Herman Hartadi.

Baik Herman maupun Ricky, menyesalkan tindakan para pengelola gedung yang banyak mempercayakan maintenance lift di gedung mereka terhadap para mekanis atau teknisi tak bersertifikat. Pasalnya, keamanan lift angkutan orang dan barang menyangkut nyawa manusia. “Maunya hemat, tapi risikonya tinggi karena hal ini menyangkut nyawa manusia,” kata Herman.

Setiap produk lift yang akan dan telah dipasang, disarankan untuk menggunakan sukucadang (spareparts) dan dirawat oleh masing-masing brand. Hal ini berguna untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan dan meningkatkan keamanan ketika menggunakan lift tersebut.

Menurut Ricky, idealnya, lift harus rutin menjalani perawatan setiap bulan, minimal tiga bulan sekali. Tapi itu tergantung tipe atau unit. Yang pasti, kata Ricky dan Herman, maintenance lift harus dilakukan oleh teknisi atau mekanis yang benar-benar bersertifikat.

Paling tidak, kata Herman, maintenance dilakukan oleh produsen lift. “Dijamin safetynya, baik secara SDM maupun onderdil,” kata Herman.

Soal pemeliharaan, Pasal 28 Permenaker No 03/1999 menyebutkan, “Pengurus harus merawat lift secara teratur sesuai dengan pedoman dan standar teknis.” (Hasanuddin)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *