Mereka Bicara K3

Denda Pelanggar K3 0,5% dari Nilai Kontrak

JULIUS ALEKSANDER

UNDANG-Undang No 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja sudah tidak sesuai dengan kondisi zaman. Mendesak untuk segera dilakukan revisi, disesuaikan dengan situasi dan kondisi kekinian. Soal aturan terhadap pelanggar K3 yaitu berupa kurungan badan selama 3 bulan dan atau denda Rp100.000, sudah sangat tidak relevan.

Menurut saya, denda sebaiknya tidak berupa hitungan rupiah melainkan nilai kontrak proyek atau biaya yang diberikan oleh pemberi kerja. Misalnya denda sebesar 0,5% dari nilai kontrak. Kalau denda hitungan rupiah misalnya sebesar Rp1 miliar, untuk proyek senilai Rp11 triliun kan jadi sangat kecil. Tapi kalau dendanya berupa 0,5% dari nilai kontrak, maka jumlahnya akan menjadi besar dan itu bisa mendatangkan efek jera.

JULIUS ALEKSANDER (24 th)
QHSE Site Officer

 

K3 = APD

SOLIHIN

SAYA baru tahu K3 setelah bergabung di Indihome, sekitar 12 tahun lalu. Ketika itu saya diminta membeli sepatu keselamatan. Katanya sepatu itu harus selalu dipakai ketika sedang bertugas di lapangan. Sebelum terjun ke lapangan, saya mendapat pelatihan-pelatihan tentang tugas yang harus saya lakukan di lapangan termasuk penjelasan singkat mengenai resiko bahaya apa saja yang akan saya hadapi.

Tugas saya adalah memasang sambungan internet baru bagi pelanggan baru dan memperbaiki saluran jika ada pengaduan dari pelanggan. Setiap hari pekerjaan saya naik tangga ke tiang-tiang, baik untuk pekerjaan sambungan baru maupun memperbaiki gangguan. Jika memasang sambungan baru, pekerjaan cuma menarik kabel optik dari tempat pelanggan baru dan menyambungkannya dengan jaringan indihome di kawasan itu.

Untuk perbaikan, saya harus naik tangga menuju tiang-tiang jaringan Indihome dan memeriksa kondisi satu per satu kabel optik di setiap tiang. Dalam menjalankan tugas, biasanya saya berdua dengan pembagian tugas satu orang memegangi tangga di bawah dan satu orang lagi naik tangga. Di ketinggian sekitar 3 – 5 meter, saya bekerja sendirian, dan pekerjaan itu sudah saya lakukan selama 12 tahun.

Bagi saya, K3 adalah alat-alat atau perlengkapan keselamatan seperti sepatu keselamatan, sarung tangan, helm keselamatan.

SOLIHIN (39)
Petugas Lapangan Indihome Cengkareng

 

Masuk Kurikulum Pendidikan

RIYANTO WIBOWO

SAYA setuju bahkan sangat setuju jika K3 harus menjadi budaya di masyarakat, khususnya di kalangan pekerja, sebagaimana dicanangkan pemerintah sejak satu dekade terakhir. Sebab dampak positifnya luar biasa. Masyarakat sehat, keselamatan dan kesehatan pekerja terjamin, produktivitas meningkat, perusahaan untung, perekenomian nasional meningkat, dan pada akhirnya kesejahteraan masyarakat juga meningkat.

Hanya saja tidak mudah menjadikan K3 sebagai budaya di masyarakat. Butuh proses dan kemauan yang kuat dari semua pihak. Dalam upaya budaya K3, usulan saya, ada baiknya jika HSE dan K3 dimasukkan dalam kurikulum pendidikan sejak kelas 3 SMP. Kenapa kelas 3 SMP? Ini pengalaman selama saya bekerja di proyek-proyek konstruksi.

Para mandor di proyek-proyek umumnya lulusan SMP dan bekerja di proyek paling lama 2 tahun. Berbeda dengan para pekerja di sektor manufaktur atau perkebunan yang biasanya bekerja dalam jangka waktu lebih lama. Jadi kita cukup kesulitan mengarahkan soal HSE dan K3 di lapangan, sebab harus pelan-pelan supaya bisa dipahami mereka.

Kenapa juga para mandor dan pekerja di lapangan, karena mereka lah yang bersentuhan langsung dengan pekerjaan-pekerjaan yang berisiko. Ini usulan saya. Pendidikan berkorelasi kuat dengan budaya.

RIYANTO WIBOWO
Manajer QHSE Div Infrastruktur I PT Waskita Karya (Persero) TB

 

K3, APA TUH?

IMAM SAFII

K3, apaan tuh? Saya baru denger. Kalau keselamatan sih, udah pasti saya perhatiin selama menarik penumpang. Yang penting jangan ngebut, lihat kiri kanan kaca spion, jangan ugal-ugalan karena penumpang gak mau kalau kita bawa motornya ngebut apalagi ugal-ugalan.

Kalau lampu merah, ya berenti. Kalau nerobos, biasanya suka ada polisi ngumpet. Berabe dah kalau urusannya sama polisi. Pake jaket dan selalu pake helm. Buat saya mah itu aja. Yang penting kita selamat selama narik penumpang. Kalau kecelakaan, ya mau gimana lagi. Musibah.

IMAM SAFII (34)
Pengojek Pangkalan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *